Debus

6 11 2009

KESENIAN TRADISIONAL DEBUS

A. Pegertian Debus
Debus adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat jawa Barat yang terdapat didaerah pamempeuk Kabupaten Garut. Debus merupakan suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.
B. Sejarah Debus
1. Menurut Masyarakat Pamengpeuk (Garut)
Kesenian ini tercipta kira-kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama islam, pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama islam disebut Mama ajengan.
Mama ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajran agama islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat. sedangkan ajaran agama islam pada waktu itu masih belum dipahami dan di mengerti maknanya.
Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajengan mengumpulka para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan DEBUS. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan-rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu-ilmu kekebalan/kekuatan dalam dirinya masing-nasing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata , kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb. Menjalani dan mendalami berbagai ilmu-ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya.
Didalam rangka mempertunjukan kesenian DEBUS tersebut Mama Ajengan dan para santrinya yang telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya, masuk keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-qur’an yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama islam.
Demikianlah yang dilakukan setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan oleh Mama Ajengan dengan para santrinya dalam rangka mempopulerkan ajaran agama islam lewat kesenian “DEBUS” sehingga berhasil meningkatkan para pengikutnya hampir diseluruh daerah dengan didirikannya pesantren-pesantren, mesjid-mesjid/surau untuk menampung pengikutnya.
Sampai sekarang secara turun temurun kesenian “DEBUS” masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat chitana, hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam, yang sangat unik sekali sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan Mama Ajengan.
2. Sejarah Lain Debus
Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke 18. Namun, pernahkah orang bertanya-tanya darimana sebenarnya asal debus tersebut? Menurut catatan sejarah, Debus itu sendiri sebenarnya ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah. Tarikat ini dibawa oleh Nurrudin Ar-raniry ke Aceh pada abad 16. Tarikat ini ketika melakukan ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan), mereka kerap menghantamkam berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi sederhana yang saya tangkap adalah “lau haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi kalau Allah tidak mengijinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai mereka, maka mereka tak akan terluka.
Pada kelanjutannya, tarikat ini sampai ke daerah Minang dan di Minang pun dikenal istilah Dabuih. Entah bagaimana selanjutnya, yang jelas saat ini debus yang pernah saya pelajari sedikit tampaknya hanya merupakan penggalan dari ajaran tarikat Rifaiah secara keseluruhan.
Demikianlah, sejarah singkat debus yang saya dapat dari berbagai sumber. Mengenai kebenarannya ya wallahualam.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: