Sisingaan

6 11 2009

Kesenian Sisingaan

Asal Usul

Sisingaan adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Di atas boneka singa yang diusung biasanya duduk seorang anak yang akan dikhitan atau seorang tokoh masyarakat. Ada beberapa versi tentang asal-usul kesenian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Jawa Barat ini. Versi pertama mengatakan bahwa sisingaan muncul di sekitar abad 70-an. Waktu itu di anjungan Jawa Barat di TMII ditampilkan kesenian gotong singa atau sisingaan yang di bentuknya masih sederhana. Dan, dari penampilan di anjungan Jawa Barat itulah kemudian kesenian sisingaan menjadi di kenal oleh masyarakat hingga saat ini.

 

Versi kedua mengatakan bahwa kesenian sisingaan diciptakan sekitar tahun 1840 oleh para seniman yang berasal dari daerah Ciherang, sekitar 5 km dari Kota Subang. Waktu itu, kabupaten Subang pernah menjadi “milik” orang Belanda dan Inggris dengan mendirikan P& T Lands. Hal ini menyebabkan seolah-olah Subang menjadi daerah pemerintahan daerah ganda, karena secara politis dikuasai oleh Belanda, tetapi secara ekonomi berada di bawah pengaruh para pengusaha P & T Lands. Akibatnya, rakyat Subang menjadi sangat menderita. Dalam kondisi semacam ini, kesenian sisingaan lahir sebagai suatu bentuk perlawanan, maka digunakan dua buah boneka singa yang merupakan lambang dari negara Belanda dan Inggris. Oleh sebab itu, sampai hari ini dalam setiap permainan sisingaan selalu ditampilkan minimal dua buah boneka singa.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian sisingaan bukan hanya menyebar ke daerah-daerah lain di Kabupaten Subang, melainkan juga ke kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat, seperti Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Sumedang. Selai menyebar ke beberapa daerah, kesenian ini juga mengalami perkembangan, baik dalam bentuk penyempurnaan boneka singa, penataan tari, kostum pemain maupun waditra lagu-lagu yang dimainkan.

 

Pemain

Para pemain sisingaan umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas: 8 orang penggtong boneka singa (1 boneka digotong oleh 4 orang), seorang pemimpin kelompok, beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang  jajangkungan (pemain yang menggunakan kayu sepanjang 3-4 meter untuk berjalan). Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki setiap pemain dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

 

Tempat dan Peralatan Permainan

Kesenian sisingaan ini umumnya ditampilkan pada siang hari dengan berkeliling kampung pada saat ada acara khinatan, menyambut tamu agung, pelantikan kepala desa, perayaan hari kemerdekaan, dan lain sebagainya. Durasi sebuah pementasan sisingaan biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi.

 

Peralatan yang digunakan dalam permainan sisingaan adalah : (1) dua atau empat buah usungan boneka singa. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka singa tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Sedangkan, untuk bulu-bulu yang ada di kepalanya maupun ekor dibuat dari benang rapia. Sebagai catatan, dahulu usungan yang berbentuk singa ini terbentuk dari kayu dengan bulu dari kembang kaso dan biasanya dibuat secara dadakan pada waktu akan mengadakan pertunjukan. Jadi, dahulu sisingaan tidak bersifat permanen, tetapi hanya sekali digunakan kemudian dibuang; (2) seperangkat waditra yang terdiri dari : dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) sebuah kentrung (kulanter), sebuah gong kecil dan sebuah kecrek.; dan (3) busana pemain yang terdiri dari : celana kampret/pangsi, iket barangbang semplak, baju taqwa dan alas kaki tarumpah atau salompak.

 

Pertunjukan Sisingaan

Pertunjukan sisingaan di awali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Setelah pemimpin kelompok memberikan kata sambutan, barulah anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka singa. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis sebagai tanda dimualainya pertunjukan. Kemudian, sejumlah delapan orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang).

 

Setelah para penggotong boneka singa siap, maka sang pemimpin akan mulai memberikan aba-aba agar mereka mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Para penggotong boneka itu segera melakukan gerakan-gerakan akrobatis yang cuku mendebarkan. Gerakan-gerakan tarian yang bisa dimainkan oleh para penggotong boneka singa tersebut adalah : igeul ngayun glempang, pasang/kuda-kuda, mincid, padungdung, gugulingan, bangkaret, masang, sepakan dua, langkah mundur, kael, ewag, jeblang, depok, solor, sesenggehan, genying, putar taktak, naggeuy singa, angkat jungjung, kolecer, lambang, pasagi tilu, melak cau, nincak rancatan, dan kakapalan.

 

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh juru kawih untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian ketuk tilu, doger, dan keliningan, seperti: keringan, kidung, titipatipa, gondang, kasreng, gurudugan, mapay roko, kembang gadung, kangsring, kembang beureum, buah kawung, gondang, tenggong petit, sesenggehan, badudud, tunggul kawing, samping butut, sireum beureum, dan lagu selingan (siyur, tepang sono, awet rajet, serat salira, madu dan racu, pria idaman, goyang dombret, waru doyong, dan lain sebagainya).

 

Pertunjukan sisingaan ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhir kembali lagi ke tempat semula. Dan, dengan sampainya para penari di tempat semula, maka pertunjukanpun berakhir.

 

Nilai Budaya

Seni sebagai ekspresi jiwa manusi sudah barang tentu mengandung nilai estetika, termasuk keseniaan tradisional sisingaan yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat ciherang, kabupaten subang. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam sisingaan tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dalam ketekunan. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketentuan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian. (ali gufron)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: