Resensi Generasi Biru

7 11 2009

Generasi Biru:

Generasi Dalam Bingkai Keliru

oleh Eric Sasono

Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

Cepat atau lambat, film tentang kelompok musik Slank pasti dibuat. Mereka adalah wakil sebuah generasi yang memang terlalu sayang untuk tak dicatat dalam sejarah musik populer di Indonesia. Ternyata, orang yang mendapat kehormatan itu adalah nama yang tak kalah besar: Garin Nugroho. Namun kredit penyutradaraan ia bagi bersama dua orang lagi: John De Rantau dan Dossy Omar. Bertiga, mereka memotret Slank sebagai kelompok pemberontak, dan ini menjadi sumber masalah dalam film ini.

Slank sebagai pemberontak diletakkan dalam dua aras eksekusi film ini. Aras pertama adalah aras artistik. Slank digambarkan sebagai pendobrak tabu dan mempersetankan tradisi sehingga penyampaian kisah tentang mereka juga harus melalui cara seperti itu. Slank dianggap sebagai sekelompok anak nakal yang tak mau turut konvensi dan selalu mencari terobosan bagi cara ucap mereka, maka film tentang Slank juga harus dibuat dengan menabrak konvensi kekisahan sinematis apa pun.

Maka Generasi Biru dipenuhi oleh dobrakan, terobosan dan pen-taik kucing-an terhadap tradisi dan konvensi sinematis yang pernah ada dalam film Indonesia. Hasilnya adalah serangkaian kekacauan dalam kekisahan yang tampak berputar-putar di tempat dan tak punya progresi yang penting sepanjang film berlangsung. Sayangnya semua itu bukan dalam pengertian yang baik. Film ini sangat tidak nyaman untuk diikuti dan tak memberi imbalan apa pun bagi penonton, kecuali mungkin mendengarkan saja lagu-lagu Slank yang memang dahsyat itu.

Yang terjadi dengan Generasi Biru adalah penyia-nyiaan beberapa elemen yang sangat menarik apabila berdiri sendiri. Lihat misalnya beberapa bagian footage dokumenter dalam film ini yang berhasil dengan sangat baik dalam mendokumentasikan Slank sebagai bagian dari pencarian identitas sebuah generasi. Footage-footage itu mampu bicara banyak tentang orang-orang yang turut mendefinsikan diri bersama Slank dan ikut mem-bunda-kan Bunda Ifet, ibu dari Bimbim, salah seorang personil Slank.

Lihat juga footage Bimbim bernyanyi di atas panggung –dengan suara tak seberapa merdu– sambil menggandeng anaknya, Una, dan bertanya tentang masa depan. Atau lihat para Slankers yang datang jauh-jauh dari Pekalongan dengan kaos benar-benar lusuh, atau lihat para Slanker di Flores yang bermain sasando menyanyikan lagu Slank. Mereka adalah sebuah generasi yang hidup, dan footage-footage dokumenter itu telah berhasil memotretnya dengan baik.

Namun sayang potret itu dijadikan bagian dari kolase yang mengabaikan segala konvensi tanpa tujuan apapun selain pengabaian konvensi itu sendiri. Beberapa elemen pendukung kolase itu dibuat dengan sangat tidak kredibel dan berakibat lebih ­jauh terhadap krebilitas film ini sendiri. Silakan perhatikan segmen Jendral Nambe yang dibuat sebagai sebuah parodi yang tak jelas asosiasinya: kebodohan atau kekuasaan atau paduan keduanya? Parodi ini memang nakal dan berpeluang untuk mengganggu, tapi eksekusi yang buruk membuat bagian ini mengganggu bukan dalam pengertian yang baik.

Eksekusi yang buruk juga terjadi pada koreografi tarian Jacko Siompo. Jacko dan timnya yang pandai dalam mentransformasi gerakan sehari-hari menjadi pertunjukan tari yang menarik, tampak seperti sedang dijajah oleh frame. Kegagalan Garin dalam menangkap gerak penari yang terjadi juga di (sebagian) Opera Jawa dan (tarian Bulan Trisna Jelantik dalam) Under the Tree, terulang lagi di sini. Padahal segmen Kupu-kupu Biru yang dibawakan oleh Nadine Chandrawinata cukup baik dalam mewakili sikap bermain-main tentang kisah cinta yang platonis.

Elemen animasi dalam film ini juga terkorbankan. Dalam beberapa kesempatan, animasi dalam film ini mampu menghadirkan asosiasi yang kuat tentang fragmen-fragmen protes dan perlawanan melalui seni yang lebih besar ketimbang politik dan aktivisme. Adegan yang dibentuk dengan clay-motion juga cukup kuat untuk membawa multiinterpretasi terhadap kekerasan kekuasaan.

Sayangnya, ambisi untuk menjadi “nakal” dan “memberontak” telah membuat elemen artistik film ini menjadi sebuah kekacauan yang dibuat demi kekacauan itu sendiri. Padahal, jika menilik elemen artistik Slank sebagai kelompok musik, sesungguhnya tak perlu ada penabrakan tradisi bercerita dalam elemen artistik film ini. Musik rock ‘n’ roll yang dibawa oleh Slank memang pernah menjadi sebuah bentuk perlawanan, tetapi kini rock ‘n’ roll telah menjadi sebuah establishment baru. Maka sikap yang santai saja dan tidak heroik terhadap rock ‘n’ roll mungkin akan lebih mampu menangkap semangat protes yang dibawa oleh kelompok seperti Slank.

Karena dalam aras muatan, asumsi bahwa Slank adalah pemberontak membawa bencana lain lagi. Tiba-tiba heroisme Slank menjadi sejajar dengan almarhum Munir. Sekalipun Slank memprotes, mengkritik dan memaki, mereka tidak melawan. Tentu saja ada pihak yang tak suka terhadap protes dan kritik, tapi sikap Slank sebagai seniman tidak berangkat dari aktivisme, melainkan berangkat dari sebuah curhat, sebuah keluhan yang jangan-jangan tak perlu pemecahan kongkret.

Slank memang mampu bertransformasi dari sekadar anak muda nongkrong gemar bermusik menjadi sebuah gerakan moral yang luas. Dari gerakan moral ini, banyak orang (terutama anak muda) yang ikut terbantu dalam pendefinisian diri mereka. Slank juga diam-diam melakukan advokasi moral terhadap orang-orang yang kalah dan tersisih dari lingkungan mereka (ingat pembelaan terhadap sikap ‘kampungan’?). Slank adalah sebuah gerakan moral yang lahir tanpa diniatkan menjadi pembenar bagi sebuah sikap moral, apalagi menjadi penentang kekuasaan.

Maka ketika Slank dipotret sebagai penentang kekuasaan –bahkan digambarkan punya andil ikut menjatuhkan Soeharto– bingkai yang dibuat untuk Slank menjadi terlalu ketat. Penggambaran terhadap Slank jadi terasa mirip dengan penggambaran terhadap kelompok musik Kantata Takwa yang filmnya beredar tahun lalu. Beberapa segmen dalam film ini punya kesejajaran dalam tema perlawanan.

Padahal, Kantata Takwa dilahirkan oleh para seniman yang memang berniat mendefinisikan ulang kepolitikan nasional, sedangkan Slank tidak. Seniman seperti Rendra dan Setiawan Djodi –juga Sawung Jabo dalam skala lebih kecil – punya ambisi politik dan ikut menentukan merah biru kebudayaan negeri ini. Wajar jika agenda politik kebudayaan mereka demikian fasih terbaca dan tergambar sempurna dalam Kantata Takwa karya sutradara yang juga punya agenda politik besar, Eros Djarot.

Tidak dengan Slank. Sekelompok pemrotes bermarkas di Potlot ini lebih tampak sebagai wakil dari kekuatiran akan masa depan anak-anak mereka. Mereka bukan penggugur gunung dan perintis jalan yang siap dengan risiko penjara. Mereka –mirip Iwan Fals dalam Kantata Takwa– adalah orang-orang yang cemas akan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Jika mereka tampak seperti melawan kekuasaan, hal itu tak terhindarkan pada masanya ketika kekuasaan begitu omnipresen mewujud di mana-mana.

Maka Slank sebagai sebuah generasi telah dicatat secara keliru oleh film ini. Bingkai yang dikenakan oleh tiga sutradara ini telah menghadirkan Slank dalam persepsi mereka sendiri. Hal semacam ini memang kerap terjadi dalam usaha mencatat kehidupan para seniman. Namun sayangnya, seniman yang sedang dicatat ini adalah Slank, wakil dari sebuah generasi yang tumbuh dan berkembang beriring matangnya keberhasilan deidelogisasi dan depolitisasi Orde Baru.

Dengan pencatatan berbingkai asumsi keliru ini, generasi ini telah tercatat dengan tidak sempurna. Sebuah potensi kehilangan yang besar apabila di masa mendatang orang meninjau lagi sejarah Slank dalam khazanah musik populer dan kepolitikan Indonesia.


Aksi

Information

One response

7 11 2009
Resensi Novel « Rental Komputer Mandiri Sindanglaya

[…] Resensi Generasi Biru […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: