Resensi Get Married

7 11 2009

Resensi Get Married:
Komik Cinderela Kota Jakarta
oleh Eric Sasono
Redaktur Rumahfilm.org

 

Ini adalah kisah Cinderella di sebuah kampung besar bernama Jakarta. Sebagaimana sebuah kota besar di dunia ketiga, lanskap Jakarta adalah pemisahan sosial yang tegas. Di balik dinding kompleks perumahan mewah, terletaklah pemukiman kumuh dengan atap-atap yang bertemu dan suara tetangga yang menyerobot masuk tanpa diminta. Lebih penting lagi, penghuninya: para pengangguran frustrasi.

Film berjudul aneh ini adalah tentang mereka. Mae (Nirina Zubir) bagai upik abu yang menanti pangeran. Tak ada ibu tiri dan saudara tiri kejam baginya. Yang ada adalah nasib sial. Ketiga sahabatnya sejak kecil yang sayang padanya tak bisa menikah dengannya. Entah karena malu, merasa miskin, tak berdaya atau gabungan dari faktor-faktor semacam itu.

Padahal Mae cantik. Ia disebut tomboy, tapi apalah makna kata itu sesungguhnya kecuali buat para orangtua yang masih melihat bahwa perempuan dan laki-laki punya peran dan tugas yang sangat berbeda masing-masingnya. Toh, di kota seperti Jakarta, atau di mana pun di dunia, pandangan kasip itu memang masih berlaku.

Juga pandangan seperti menjodohkan anak perempuan mereka agar meringankan beban orangtua. Aneh juga jika film ini masih percaya pandangan semacam itu. Maka Mae dipaksa menikah oleh kedua orangtuanya. Ini jadi pangkal perkara karena tak ada pemuda di kampung itu yang dianggap layak oleh Mae. Tiga pemuda sahabat Mae, Benny (Ringgo Agus Rahman), Guntoro (Desta) dan Eman (Aming) tak rela pujaan hati mereka diambil diambil orang luar. Tapi mereka juga tak mampu bersaing. Dengan alasan membantu Mae, mereka mencegati calon jodoh yang datang satu demi satu dan memaksa mereka tak kembali. Kecuali apabila lelaki yang datang itu benar-benar anak raja atau anak sultan.

Dan datanglah anak raja itu. Mungkin bukan anak raja, tapi kualifikasinya mirip pangeran dalam kisah Cinderella: tampan, kaya, baik hati, pintar, dan rendah hati. Kemungkinan semacam ini agak ajaib terjadi di dunia nyata, tapi Musfar Yasin memang sedang mengarang sebuah cerita komik (dalam artinya dari kata bahasa Inggris, “comic”, yakni “sifat lucu-lucuan”). Karakter dan peristiwa dilebih-lebihkan untuk mengundang tawa. Atau dipangkas habis seperti sosok sang pangeran ini.

Sang pangeran itu bernama Randy (Richard Kevin). Ia bersekolah di Amerika dan mengendarai Porsche Cabriolet di Jakarta. Ia sedang berlibur dan terus dicereweti ibunya (Ira Wibowo) agar tak menikah dengan bule. Sebagaimana pangeran dalam dongeng, Randy berhati terlalu mulia untuk mendapat pacar sembarang anak mal atau sembarang model cantik sekelas VJ MTV. Ia harus mendapat kecantikan yang “orisinal”. Dengan kata lain, apakah ia menginginkan “harta karun”, “berlian yang belum diasah”? Mungkin Mae adalah orang yang tepat. Sayang, Kevin Richards yang memerankan Randy tak pernah belajar akting dengan baik untuk mengantarkan rayuan semacam itu kepada orangtua Mae.

Namun bukan orangtua Mae yang tak terima, melainkan tiga pemuda pengangguran pelindung Mae yang tak suka padanya. Tiga lelaki pengangguran di kampung dan anak orang kaya ber-Porsche sudah tepat untuk sesuatu bernama konflik kelas. Sebuah topik yang sejak Langitku Rumahku (Slamet Rahardjo, 1990), absen dalam film Indonesia.

Alih-alih menghindarinya, Musfar Yasin justru menjadikannya sebagai sebuah bahan olok-olok. Olok-olok Musfar ini mungkin terasa naif, tapi nama lain untuk kenaifan Musfar ini adalah tulus. Akibatnya, Get Married menjadi sebuah film dengan cerita yang sangat enak diikuti.

Memang, skenario Get Married ini masih kalah kelas kalau dibandingkan dengan skenario Musfar pada Ketika. Tapi kedua skenario ini punya karakter sama: dengan semakin tak berniat macam-macam, menjadi semakin kuat pula mereka. Sampai di sini, saya sedang mencoba memercayai sesuatu: Musfar Yasin adalah penulis skenario terbaik yang sedang dimiliki oleh negeri kita saat ini. Dialog-dialog dalam film ini sedang menyediakan bukti-bukti untuk itu, sekalipun saya akan lebih sabar menunggu untuk sampai pada kesimpulan akhir.

Untunglah ambisi artistik Hanung tak terlalu tinggi terhadap skenario ini. Aliran cerita yang terasa lancar dan komik itu tetap sampai dengan baik. Ambisi Hanung terasa pada visualisasi, tapi itu tak sampai mengganggu cerita. Sedikit lagi saja Hanung bermain-main dengan kamera, maka ia mengkhianati cerita komik yang dimaksudkan untuk sederhana ini.

Nyaris hal itu terjadi pada adegan perkelahian massal. Terlihat sekali ambisi Hanung untuk memperlihatkan bahwa kekerasan di negeri bernama Indonesia itu adalah sesuatu yang nyata dan menyeramkan. Mungkin gambar-gambar perkelahian ini bisa diacu pada film City of God. Padahal, dalam komik semacam Get Married ini, orang kerap memaklumi tipisnya realisme dan pelebih-lebihan guyonan. Dengan durasi sepanjang itu, adegan perkelahian massal di film ini membuat sifat karikatural secara keseluruhan tercecer, bahkan ada akibat yang lumayan mengganggu.

Tiba-tiba pokok soal dalam karikatur ini berubah serius: ada implikasi yang menyeramkan dari kebercandaan kita (baca: Hanung dan penonton filmnya ini) di sepanjang film. Memang, kenyataan bernama konflik kelas dan sebagainya ini menyeramkan, dan kita sudah tahu. Lagi pula, bukankah film ini sejak awal sedang mencoba menertawakan soal ini bersama?

Komik selalu bersifat satu dimensi dan ke-satudimensian film ini memakan korban-korbannya. Pertama, adalah karakter pangeran tampan bernama Randy. Relakah kita percaya bahwa orang kaya raya tak ketulungan ini begitu kepayangnya hingga rela mati untuk perempuan yang pertamakali ditemuinya? Kedua, tentu adalah situasi yang harus dihadapi Mae. Boleh saja ia digambarkan punya cita-cita menjadi polisi di awal film. Anehnya, sepanjang film, Mae pasrah saja jadi objek rebutan tiga sahabatnya dengan cara gambreng atau suit atau berkelahi di jalanan.

Catatan-catatan itu tak membuat film ini tak jadi menghibur. Dialog yang mengejutkan dan diantarkan pada momen yang tepat membuat seluruh film akan dipenuhi tawa menyegarkan. Saya tak tahu apakah penonton rela untuk meninggalkan perspektif-perspektif mereka ketika menonton film ini.

Get Married

Sutradara: Hanung Bramantyo.

Skenario: Musfar Yasin

Pemain: Nirina Zubir, Aming, Desta, Ringo Agus Rahman, Richard Kevin, Jaja Miharja, Meriam Bellina.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: