Resensi Senja di Langit Majapahit

7 11 2009

Judul      : Dyah Pitaloka - Senja di Langit

Majapahit
Penulis    : Hermawan Aksan
Penerbit   : C-Publishing
Cetakan    : I, Des 2005
Tebal      : 326 hal ; 17.5 cm

Dyah Pitaloka, putri Prabu Linggabuana, raja negeri Sunda kerap
diganggu mimpi buruk dalam tidurnya. Dalam mimpinya ia melihat
matahari yang menggantung di atas cakrawala pelan-pelan terbelah
menjadi dua dan mencebur bersama-sama ke dalam laut yang mendadak
berwarna merah darah. Mimpi buruk itu terus mengganggunya semenjak
utusan dari Majapahit datang ke Negeri Sunda.

Dimasa itu Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, telah
menjadi kerajaan yang besar dan disegani diseluruh Nusantara. Peran
Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa-nya yang terkenal membuat
hampir seluruh Nusantara takluk dibawah kekuasaan Majapahit. Hanya
ada satu negeri yang hingga saat itu masih merdeka dari pengaruh
Majapahit, padahal negeri itu hanya dibatasi oleh sebatang aliran
sungai Cipamali. Negeri Sunda! Negeri Sunda inilah yang membuat
sumpah Palapa Gajah Mada belum juga tergenapi. Tak terhitung sudah
berapa kali Gajah Mada berniat untuk menyerang negeri Sunda dengan
pasukannya, namun selalu urung karena ia merasa ada semacam wibawa
tak kasat mata yang membuatnya segan terhadap Negeri Sunda yang jika
ditilik dari sejarah memang telah ada terlebih dahulu dibanding
Majapahit, bahkan pendiri Majapahit sendiri memiliki darah sunda
dari ayahnya. Sayangnya Gajah Mada tak mempercayai adanya hubngan
darah ini sehingga ambisinya untuk menaklukkan negeri Sunda tak
pernah padam.

Raja Hayam Wuruk yang saat itu hendak mencari seorang istri mengutus
para juru lukisnya ke segenap penjuru nusantara untuk melukis putri-
putri dari berbagai kerajaan yang kelak akan dipilihnya untuk
menjadi permaisuri. Kecantikan Dyah Pitaloka di Negeri Sunda tak
luput dari incaran juru lukis Majapahit. Diantara ratusan lukisan
dari berbagai penjuru Nusantara, Hayam Wuruk terpikat oleh lukisan
Dyah Pitaloka dan memilihnya untuk dijadikan permaisurinya. Hayam
Wuruk segera mengirim utusannya untuk menyatakan niatnya. Mulanya
Dyah Pitaloka tak berkenan dengan cara yang dilakukan oleh Hayam
Wuruk untuk mencari permaisuri, harga dirinya sebagai seorang putri
negeri Sunda terasa terlecehkan, namun ia tak kuasa melawan kehendak
ayahnya, Prabu Linggabuana yang menyetujui lamaran Hayam Wuruk.
Untuk itu Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka diundang untuk segera
berangkat menuju Majapahit guna melaksanakan pesta pernikahan.

Jika Prabu Hayam Wuruk hanya berniat mencari seorang permaisuri,
lain halnya dengan Gajah Mada. Bagi dirinya pernikahan Dyah Pitaloka
dengan Hayam Wuruk dilihatnya sebagai kesempatan untuk menggenapan
Sumpah Palapa-nya. Dengan cerdiknya Gajah Mada mempengaruhi Hayam
Wuruk agar memandang pernikahannya dengan Dyah Pitaloka sebagai
suatu pengakuan kedaulatan negeri Sunda terhadap Majapahit. Dengan
demikian Dyah Pitaloka dianggap sebagai "upeti" dari Negeri Sunda.

Prabu Hayam Wuruk yang rencanya akan menjemput Dyah Pitaloka dan
rombongannya di Tegal Bubat akhirnya gagal. Gajah Mada merubah
rencana yang telah terususun rapih. Rombongan Prabu Linggabuana dan
Dyah Pitaloka yang telah tiba di Tegal Bubat heran karena Prabu
Hayam Wuruk dan rombongan yang akan menjemputnya tak kunjung tiba.
Dua ksatria dari Negeri Sunda diutus untuk memasuki Majapahit,
mereka bertemu dengan Gajah Mada yang memerintahkan agar dan Prabu
Linggabuana dan rombogannya datang sendiri ke istana Majapahit untuk
menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai "upeti" dari Negeri Sunda. Hal ini
membuat Prabu Linggabuana dan seluruh rombongannya tersinggung.
Harga diri dan kebesaran Negeri Sunda terasa tercabik-cabik, Prabu
Linggabuna menolak perintah Gajah Mada. Perang tak terhindarkan!
Pertarungan yang tak seimbang antara harga diri Prabu Linggabuna dan
ambisi Gajah Mada berkembang menjadi perang yang dashyat dan
melagenda, dua kekuatan tak mau menyerah begitu saja. Dyah Pitaloka
yang masih menggunakan pakaian pengantinnya ikut bertarung
mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda.
Sejarah mencatar Perang ini sebagai Perang Bubat (1357).

Sejarah adalah merupakan satu fakta, atau sesuatu yang dapat
dibuktikan dengan fakta. Sejarawan ma tidak mau terikat pada fakta-
fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-
bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat
lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Hermawan Aksan dalam
novel perdananya ini mencoba mengangkat fakta sejarah Perang Bubat
kedalam novel ini. Tokoh-tokoh sejarah seperti Dyah Pitaloka, Gajah
Mada, Hayam Wuruk, Linggabuana dan lain-lain dideskripsikan menurut
versi penulisnya. Dyah Pitaloka dalam novel ini dideskripsikan
sebagai seorang putri yang cantik yang haus akan ilmu dan gemar
membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Dyah juga
sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan
memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri
yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. Karena berada dalam area
fiksi deskripsi ini mungkin sah-sah saja, namun mungkin akan
menimbulkan tanda tanya bagi pembacanya, apakah mungkin seorang
putri yang hidup di abad 13 telah memiliki pandangan yang jauh
kedepan terutama dalam hal-hal emansipasi?

Karakter Gajah Mada yang selama ini dikenal sebagai tokoh pemersatu
Nusantara dalam novel ini digambarkan sebagai seorang patih ambisius
yang rela memanfaatkan cinta rajanya (Hayam Wuruk) untuk memenuhi
ambisinya mepersatukan Nusantara hingga harus mati-matian memerangi
Prabu Lianggabuana dalam tragedi berdarah di Tegal Bubat. Sedangkan
Hayam Wuruk sendiri digambarkan sebagai raja boneka yang mudah
dipengaruhi oleh Gajah Mada.

Dari segi plot cerita, novel ini disajikan dengan sangat menarik.
Nampaknya Novel ini dikerjakan dengan riset yang cukup mendalam, hal
ini terbukti dengan gambaran Perang Bubat yang menjadi klimaks
cerita yang disajikan dengan seru dan memikat. Deskripsi kota
Trowulan – Majapahit disajikan dengan cukup detail seakan mengajak
pembacanya berpetualang ke ibukota Majapahit. Novel ini juga memberi
pemahaman pada pembacanya terhadap tokoh Dyah Pitaloka dan kaitannya
dengan Perang Bubat yang merupakan awal dari redupnya kebesaran
Gajah Mada setelah kejadian ini.

Sebagai Novel Sejarah sebenarnya novel ini sangat berpotensi untuk
lebih mengangkat lagi budaya Sunda dan Jawa / Majapahit, sayangnya
hal ini tidak tereksplorasi dengan baik. Kurangnya sketsa kehidupan
sosial masyarakat Sunda dan Majapahit membuat novel ini lebih
bernuansa istana-sentris karena hanya mengungkap kejaidan seputar
istana Sunda dan Majapahit. Jika saja unsur-unsur sosial dan budaya
masyarakat Sunda dan Majapahit terungkap dengan baik novel ini akan
menjadi novel sejarah yang gemuk yang akan mengenayngkan pembacanya.

Namun terlepas hal-hal diatas novel perdana Hermawan Aksan ini patut
dihargai setinggi-setingginya karena bagaimanapun novel ini
mengungkap sepenggal peristiwa sejarah yang mungkin sudah terlupakan
dan hanya ditemui dalam buku-buku teks sejarah kedalam sebuah novel
yang memikat dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: