Arsitektur Bangunan Candi Borobudur

23 03 2010

Arsitektur yang menciptakan candi Borobudur yaitu berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Menurut prasasti Kulrak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Budha Tantra Vajrayana.

Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit seluas ± 7,8 ha pada ketinggian 265,40 m di atas permukaan laut atau berada ± 15 m di atas bukit sekitarnya. Untuk menyesuaikan dengan profil candi yang akan dibangun, bukit diurug dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 m sampai dengan 8,50 m. Ukuran candi yang diurug dari dinding terluar adalah 121,70 m x 121,40 m dengan tinggi bangunan yang masih tersisa 35,40 m dari tanah halaman.

Denah candi yang menyerupai bujur sangkar dengan 36 sudut pada dinding teras 1, 2 dan 3 tersusun dari batu Adhesit dengan sistem dry masonry (tanpa pelekat) yang diperkirakan mencapai 55.000 m3 atau 2.000.000 blok batu. Untuk memperkuat konstruksi dipergunakan sambungan batu tipe ekor burung ke arah horizontal, sedangkan untuk yang arah vertikal menggunakan sistem getakan. Pada masing-masing tingkat dan setiap penjuru mata angin terdapat pintu gerbang atau tangga. Pintu utama ada di sebelah timur.

Bentuk arsitektur candi Borobudur yang sekarang diperkirakan mengalami perubahan konsep dasar. Pertahapan yang diperkirakan Dumarcay diakibatkan candi mengalami beberapa kali kelongsoran sehingga harus mengulang pekerjaan pembangunan. Menurut Hoening yang dikutip oleh Bernet Kempers, rancangan semula candi Borobudur adalah candi yang mempunyai empat pintu di atas suatu undag-undag sembilan tingkat. Bentuk ini banyak ditemui di Kamboja. Menurut H. Parmentier yang dikutip oleh Bernet Kempers, menyebutkan bahwa pada rencana semula candi Borobudur akan mempunyai sebuah stupa yang sangat besar sekali, yang diletakan pada bagian yang sekarang ditempati banyak stupa.

Perkiraan ini banyak dilihat dari sisa susunan batu pada tangga dinding teras ± sisi barat dan utara yang merupakan dasar dari sebuah stupa besar dengan diameter AE 51 m. Sedangkan menurut Sutterheim dalam bukunya yang berjudul “Tjandi Borobudur, Naam Vorm en Beteekens”, 1929 yang dikutif Purnama Atmadi menyebutkan hasil perubahannya, bentuknya sesuai dengan keterangan dalam kitab Jawa Kuno “Sang Hyang Kamahayanikam” yang menguraikan filsafat agama Budha, dikatakan bahwa bangunan candi Borobudur adalah “Stupa Prasada” yaitu suatu bangunan gabungan dari stupa bagian atas dan piramida yang mempunyai undag-undag. Dan apabila dilihat dari aspek seni bangunan, ada dua bentuk seni arsitektur yang dipadukan, yaitu.

1)      Hindu Jawa Kuno yaitu adanya punden berundak, relief maupun patung Budha yang sedang bermeditasi.

2)      India yaitu adanya stupa dan lantai yang bundar.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil seperti bangunan candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Candi Borobudur merupakan versi lain dari bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan candi Borobudur yang merupakan ciri khas arsitektur Budha di Indonesia.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: