Inspiratif Pembangunan Candi Borobudur

25 03 2010

Sejarah pembangunan candi Borobudur menuai berbagai kendala. “Tantangan yang pertama adalah masalah biaya dan dana”, demikian yang disampaikan bapak Matori, BA selaku pencetus ide dibangunnya candi Borobudur. “Namun, berkat kerja sama dari  berbagai pihak dan kegigihan dalam mewujudkan obsesi, kendala tersebut dapat diatasi”. Seperti yang disampaikan bahwa dana pembangunan pada waktu itu diperoleh dari iuran BP3 dan juga dari hasil penjualan panen kedelai karena memang pada waktu itu masih terdapat lahan kosong yang dapat dimanfaatkan. “Tantangan kedua adalah teknis pembuatan”.

Demikian keterangan selanjutnya. Sebab, menurut bapak Matori, BA bahwa waktu itu belum mempunyai arsitektur yang handal. Tukang-tukangnya hanya dari orang dalam sendiri yang awan tentang teknik pembuatan candi. Pembuatan candi dilakukan dengan cara bongkar pasang. Kesulitan teknis pembuatan ini juga sempat disampaikann oleh bapak Ibnu Mondir. Menurutnya,sulit sekali menemukan orang yang mampu menirukan sesuatu dengan tingkat kemiripan yang tinggi. Apalagi menirukan bangunan Candi Borobudur yang memiliki tiga bagian, yakni Kamadhatu (bagian dasar), Rupadhatu (tubuh), dan Arupadhatu (atap).

Perlu diketahui bahwa pembangunan candi itu menggunakan bahan-bahan hanya dari bata merah, pasir, dan semen. Ini dimaksudkan agar bangunan tahan beberapa lama sampai 50 tahunan. Arsitek bangunan, bapak Matori, BA didampingi oleh Bapak Subandi S.Pd mantan guru BP yang sekarang alih tugas di SMA Negeri Tanjungaanom Alasan dibangunnya replica candi adalah menanamkan dan menumbuhkan perasaan cinta budaya bangsa sendiri, utamanya peninggalan-peninggalan sejarah. Agar para siswa yang hidup dalam era yang serba modern tetap mengenal dan mencintai sejarah bangsanya.  “Sebab, untuk menjadi bangsa yang besar harus mengetahui seluk-beluk sejarah bangsanya“.

Rencana awal pembangunan candi Borobudur adalah menolong siswa yang tidak bisa mengikuti tur ke Borobudur untuk bisa melihat dan mengerti melalui bentuk replikanya. Disamping itu, bangunan ini dimanfaatkan untuk taman IPS, keindahan sekolah dan kemegahan sekolah. Satu hal yang menjadi catatan bahwa replica candi demikian telah menjadi warna tersendiri bagi SMP Negeri 1 Prambon, yang pada akhirnya menjadi ciri khas yang ditampilkan  candi Borobudur itu merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.

Candi Borobudur itu terdiri dari 10 tingkat dengan 3 bagian utama yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah fondasi candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit.Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi.

Dalam kunjungan kerja ke Semarang pada tahun 1814, Raffles mendapat laporan perihal adanya monumen di daerah Kedu. Akhirnya, ia segera memerintahkan HC Cornelius, seorang arkeolog yang berpengalaman untuk menyurvei keberadaan candi tersebut.

Dalam laporannya, Cornelius berhasil menemukan reruntuhan candi yang tertutup pepohonan dan semak-semak. Di berbagai tempat dia menemukan bongkahan batu yang dikenal sebagai bangunan candi. Dibantu penduduk setempat, Cornelius memulai pekerjaan membongkar berbagai tumbuhan yang menyelimuti bangunan tersebut. Selama dua bulan para pekerja akhirnya berhasil membuka tabir rahasia bangunan candi. Walaupun yang kelihatan baru sebagian saja, penemuan itu merupakan awal kebangkitan Borobudur.

Pada tahun 1817 dan 1825, bangunan candi dibersihkan lebih lanjut. Tahun 1835, Residen Kedu, Hartmann, memerintahkan agar membersihkan apa saja yang menutupi candi. Atas perintahnyalah, Borobudur menampakkan kemegahannya kembali. Seorang pelukis bernama FC Wilson ditugaskan pemerintah Belanda menggambar relief-relief candi. Ia berhasil menyelesaikan 476 relief gambar selama empat tahun.

Borobudur mulai menjadi daya tarik dunia saat terbitnya Monografi candi Borobudur pada tahun 1873. Setahun kemudian, buku itu diterbitkan dalam bahasa Prancis, hingga akhirnya Borobudur semakin dikenal luas.

Pada tahun 1882, ada ide agar relief-relief yang ada dibongkar saja dan dimasukkan ke dalam museum. Untunglah, ide ini tidak jadi dilaksanakan, sebab pada tahun berikutnya, pemerintah menugasi Groeneveldt, ahli sejarah Belanda untuk meneliti kembali candi Borobudur yang dikabarkan hampir runtuh. Ternyata, Groeneveldt berpendapat lain, Borobudur tidak perlu dikhawatirkan punah seperti laporan-laporan sebelumnya.

Ijzerman, Insinyur Belanda, pada 1885 menyelidiki reruntuhan candi Borobudur. Batu demi batu dia amati, relief demi relief dia pelajari, akhirnya berhasil menemukan relief yang bersumber dari naskah Maha Karmawibhangga (hukum sebab akibat). Lalu, dia pun mengimbau pemerintahan kolonial agar berusaha menyelamatkan bangunan bersejarah itu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: